Pelatihan Menulis Kitab Kuning Tahap II Bersama Kyai Asep Berakhir Hari ini

Sebagaimana diberitakan sebelumnya bahwa Ma’had Aly MUDI mengadakan pelatihan menulis kitab kuning dua tahap, tahap pertama dalam bentuk seminar dan khataman Kitab Ta’rif al-Muhaqqiqin dan dilanjutkan tahap kedua selama 3 hari pada 21-23 Mei 2022. Pelatihan tahap kedua akan berakhir hari ini (Senin, 23/05/22).

Pelatihan tahap kedua ini fokus kepada praktik dari pada tahap sebelumnya. Kyai Asep menunjukkan contoh ta’liqnya di hadapan peserta yaitu ta’liq terhadap kitab Juzu` fi al-Tahniah fi al-A’yad wa ghairiha. Kitab ini sendiri merupakan karya ulama besar fikih Syafi’i yaitu Imam Ibnu Hajar al-Asqalan. Kitab ini mengulas seputar hukum mengucapkan selamat pada hari raya dan hari besar lainnya seperti taqabballahu minna wa minkum, kullu ‘am wa antum bi khair dan lain-lain.

Dalam pelatihan ini, Kyai Asep menjelaskan metode dan pengalamannya dalam melakukan ta’liq atau catatan kaki terhadap karya Ibnu Hajar al-Haitamin tersebut. Di antara yang beliau sampaikan bahwa langkah pertama bagi para penulis yang ingin menta’liq, mensyarahi atau menghasyiahi suatu kitab adalah harus memilih kitab apa yang ingin ditulis sesuai dengan kemampuan penulis atau muhaqqiq sendiri dan dengan melihat tingkat kebutuhan. Selain itu penulis juga perlu memerhatikan kekayaan referensi yang dimiliki terkait tema yang akan ia tulis.

Untuk memotivasi diri agar mau maju dalam menulis, khususnya kitab-kitab besar yang dari satu sisi kita merasa tidak pantas mensyarahinya, atau mungkin kitab itu telah pernah dikhidmah oleh ulama sebelumnya dalam bentuk syarah, hasyiah, ta’liq dan lainnya adalah mengingat bahwa ada banyak kitab yang ditahqiq oleh orang-orang yang sama sekali tidak mumpuni dalam keilmuan, bahkan sebagian mereka secara aqidah mungkin menyimpang.

Mereka mensyarahi atau mentahqiq kitab-kitab yang ditulis oleh para Ulama yang notabenenya bermanhaj Ahlussunnah wal Jamaah. Maka seharusnya kitalah yang memiliki manhaj yang sama dengan shahibul matan yang perlu mengambil peran dalam memberi khidmah kepada kitab-kitab tersebut.

Banyak hal yang diajarkan dalam pelatihan tahap II ini yang lebih fokus ke praktik langsung. Beliau menuntun mahasantri tentang cara mencari referensi di Maktabah Syamila, kitab-kitab Makhtutath atau maktabah elektronik yang sudah beliau rangkum.

Jika ada teks yang janggal, ada kemungkinan tahrif, mahasantri diajarkan cara melacak keakuratannya. Keakuratan redaksi ada pada tulisan asli atau manuskrip, bukan pada maktabah syamilah. Bahkan kata Kyai Asep, Syekh Muhammad Awamah mengingatkan agar tidak menjadikan maktabah syamilah sebagai rujukan utama, tetapi mengombinasikan dengan versi cetak dan manuskrip untuk memastikan teks yang shahih.

Presentasi hasil Karya dari mahasantri

Selain itu, dalam pelatihan ini juga dijelaskan kitab-kitab yang perlu dirujuk terkait dhabtul ansab, tarjamatul a’lam, ta’rif bil kutub, serta wazhifah tambahan yang belum ada dalam kitab Ta’riful Muhaqqiqin yang kiranya dibutuhkan dalam penulisan kitab.

Dalam memotivasi mahasantri untuk cakap menggunakan perangkat digital sebagai alat bantu dalam menulis, Kyai Asep berkata: “Kalian yang masih muda, jangan sampai kalah maju dengan Ayah di Cot Trueng. Beliau meskipun sudah ulama besar, tapi saat saya ke sana, bicaranya tentang syamilah, maktabah elektronik dan semisalnya.”

Kyai Asep juga menyampaikan bahwa jika ingin mensyarh, ta’liq atau hasyiah maka modal utama adalah dengan banyak pengetahuan dan maklumat terhadap kitab terkait. Karena itu sangat perlu memperbanyak bacaan, baik dengan dibacakan di hadapan guru, di hadapan murid atau pergi ke pustaka.

[learn_press_profile]

Share

Add Your Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *